Raindrop Cake, Dessert Bening dari Jepang yang Pernah Viral Sedunia
Bayangkan sebuah kue yang tampak seperti tetesan air raksasa, bening, bergetar lembut saat disentuh, dan hampir tidak berasa apa-apa. Terdengar aneh? Itulah Raindrop Cake, dessert asal Jepang yang pernah menggemparkan dunia maya karena bentuknya yang unik dan "misterius".
Di Jepang sendiri, dessert ini dikenal dengan nama Mizu Shingen Mochi (水信玄餅), yang secara harfiah berarti "mochi air Shingen". Meski disebut mochi, teksturnya sama sekali berbeda dari mochi pada umumnya. Yuk, kita kenali lebih dalam asal-usul, cara pembuatan, dan alasan kue ini begitu viral.

Asal Usul Mizu Shingen Mochi
Mizu Shingen Mochi pertama kali diciptakan oleh toko kue tradisional Kinseiken di Prefektur Yamanashi, Jepang. Nama "Shingen" diambil dari nama seorang daimyo (penguasa feodal) terkenal di masa lalu, Takeda Shingen, yang berasal dari wilayah tersebut. Dessert ini terinspirasi dari mata air pegunungan Yamanashi yang terkenal jernih dan segar.
Keunikan Mizu Shingen Mochi terletak pada teksturnya yang sangat mirip dengan tetesan air murni, namun tetap bisa dipegang dan dimakan menggunakan sendok atau sumpit. Rasa dasarnya hampir netral, sehingga biasanya disajikan dengan tambahan kinako (bubuk kedelai panggang) dan kuromitsu (sirup gula aren hitam) agar lebih nikmat.
Bagaimana Raindrop Cake Jadi Viral di Dunia Barat?
Dessert ini mulai dikenal luas di luar Jepang setelah seorang pengusaha kuliner asal Amerika, Darren Wong, memperkenalkan versinya sendiri dengan nama Raindrop Cake di festival makanan Smorgasburg, New York, pada tahun 2016. Foto-foto kue bening berbentuk tetesan air ini menyebar cepat di media sosial dan menjadi bahan perbincangan karena tampilannya yang "ajaib" dan hampir tidak terlihat seperti makanan pada umumnya.
Sejak itu, berbagai kafe dan toko dessert di berbagai negara mulai membuat versi mereka sendiri, termasuk di Indonesia, meski dengan nama dan variasi rasa yang berbeda-beda.

Bahan dan Cara Membuat Raindrop Cake
Resep dasar Raindrop Cake sangat sederhana karena hanya memerlukan dua bahan utama:
- Air mineral berkualitas tinggi (biasanya air pegunungan atau air murni).
- Agar-agar sebagai bahan pengenyal.
Berikut langkah umum pembuatannya:
- Larutkan bubuk agar-agar ke dalam air mineral yang dipanaskan hingga mendidih, lalu aduk rata.
- Tuang larutan ke dalam cetakan berbentuk bulat atau tetesan air.
- Dinginkan di lemari pendingin selama sekitar 1 jam hingga mengeras namun tetap kenyal lembut.
- Keluarkan dari cetakan dengan hati-hati karena teksturnya yang sangat rapuh.
- Sajikan dengan taburan kinako dan siraman sirup gula aren.
Karena kandungan airnya yang sangat tinggi (lebih dari 90%), Raindrop Cake harus segera disantap dalam waktu singkat setelah dibuat, biasanya sekitar 15-30 menit, sebelum teksturnya mulai menyusut dan berubah bentuk akibat penguapan air.
Apakah Raindrop Cake Punya Rasa?
Banyak orang penasaran, apakah kue ini benar-benar tidak berasa? Jawabannya, rasa dasarnya memang sangat netral, hampir seperti air biasa dengan sedikit sensasi kenyal di mulut. Sensasi menikmati Raindrop Cake lebih mengarah pada tekstur dan pengalaman makan dibandingkan cita rasa yang kuat. Itulah mengapa biasanya disajikan dengan pelengkap seperti sirup gula aren, bubuk kedelai, atau bahkan taburan buah agar lebih nikmat saat disantap.

Kandungan Nutrisi Raindrop Cake
Karena komposisinya yang sebagian besar berupa air dan agar-agar, Raindrop Cake tergolong dessert rendah kalori dibandingkan kue-kue pada umumnya. Agar-agar sendiri dikenal mengandung serat alami yang baik untuk pencernaan. Namun, nilai gizinya akan berubah tergantung topping yang ditambahkan—sirup gula aren dan bubuk kedelai tentu akan menambah jumlah kalori dan gula di dalamnya.
Bagi yang sedang menjaga pola makan, Raindrop Cake tanpa topping manis bisa menjadi pilihan dessert yang relatif ringan dibandingkan kue-kue berbahan dasar tepung dan mentega.
Perbedaan Raindrop Cake dengan Mochi Biasa
Banyak orang mengira Raindrop Cake adalah jenis mochi karena namanya dalam bahasa Jepang menggunakan kata "mochi". Namun, sebenarnya kue ini sangat berbeda dengan mochi tradisional. Mochi biasa dibuat dari tepung ketan yang ditumbuk hingga kenyal dan biasanya diisi dengan pasta kacang merah atau bahan manis lainnya. Teksturnya kenyal, padat, dan cenderung lebih berasa.
Sementara itu, Raindrop Cake tidak menggunakan tepung ketan sama sekali. Bahan utamanya hanyalah air dan agar-agar, sehingga teksturnya jauh lebih lembut, bergetar, dan hampir transparan seperti gelatin. Penggunaan nama "mochi" di sini lebih merujuk pada bentuk dan cara penyajiannya yang mirip dengan mochi tradisional Jepang, bukan pada bahan atau teksturnya.
Mengapa Raindrop Cake Begitu Menarik Secara Visual?
Salah satu alasan utama Raindrop Cake begitu populer di media sosial adalah karena sifatnya yang hampir sepenuhnya transparan dan menyerupai benda cair, meski bisa dipegang seperti benda padat. Efek visual ini menciptakan ilusi optik yang menarik perhatian, terutama saat direkam dalam video singkat yang menunjukkan teksturnya bergetar lembut ketika disentuh atau dipindahkan.
Fenomena ini juga berkaitan dengan tren kuliner "Instagrammable" yang sempat booming pada pertengahan tahun 2010-an, di mana makanan dengan tampilan unik dan ekstrem lebih mudah viral dibandingkan makanan dengan rasa yang biasa saja. Raindrop Cake menjadi salah satu contoh sukses dari tren tersebut, bersanding dengan makanan viral lain seperti unicorn frappuccino dan cronut.
Variasi Rasa dan Topping Raindrop Cake
Meskipun resep aslinya hanya menggunakan air dan agar-agar tanpa tambahan rasa, banyak kreator kuliner mulai berinovasi dengan menambahkan ekstrak rasa ke dalam adonan, seperti teh hijau (matcha), lavender, atau bunga sakura, sehingga menghasilkan warna dan aroma yang lebih menarik tanpa mengubah teksturnya yang khas.
Untuk topping, selain kombinasi klasik kinako dan kuromitsu, beberapa variasi modern juga menambahkan buah segar potong, madu, atau bahkan taburan cokelat parut sebagai pelengkap. Meski begitu, sebagian besar penggemar kuliner tetap menganggap kombinasi tradisional sebagai yang paling pas untuk menonjolkan karakter unik dessert ini.
Bisakah Membuat Raindrop Cake di Rumah?
Tentu saja. Salah satu alasan Raindrop Cake tetap populer adalah karena bahan dan cara pembuatannya yang sederhana, sehingga bisa dicoba sendiri di rumah tanpa peralatan khusus. Beberapa tips agar hasilnya maksimal:
- Gunakan air mineral dengan kualitas baik karena akan memengaruhi rasa akhir.
- Pastikan agar-agar benar-benar larut sempurna sebelum dituang ke cetakan agar teksturnya halus.
- Gunakan cetakan silikon berbentuk bulat atau setengah lingkaran untuk hasil menyerupai tetesan air yang lebih meyakinkan.
- Sajikan segera dan foto secepatnya jika ingin mengabadikan bentuknya sebelum menyusut.
Baca juga: Tahu Gejrot, Kuliner Khas Cirebon yang Menggoyang Lidah
Kesimpulan
Raindrop Cake atau Mizu Shingen Mochi adalah salah satu contoh bagaimana kesederhanaan bisa menciptakan keajaiban kuliner yang viral di seluruh dunia. Dengan hanya dua bahan utama—air dan agar-agar—dessert ini berhasil memukau banyak orang karena tampilannya yang unik dan pengalaman makan yang berbeda dari kue pada umumnya. Jika kalian penasaran, mencoba membuatnya sendiri di rumah bisa jadi kegiatan seru sekaligus unik untuk dicoba bersama keluarga.
Komentar
Posting Komentar